Sejarah TVRI Stasiun D.I. Yogyakarta

Menelusuri jejak langkah perjalanan dan perkembangan kami melayani negeri.

Sejarah TVRI Nasional

Sejarah TVRI Nasional

TVRI (Televisi Republik Indonesia) resmi berdiri pada 24 Agustus 1962 di Jakarta, bertepatan dengan persiapan Asian Games IV. Pemerintah mendirikan TVRI sebagai media baru untuk meningkatkan kualitas pendidikan, mengembangkan budaya nasional, dan memperkuat citra bangsa.
Awalnya, TVRI hanya memiliki satu stasiun dengan jangkauan terbatas. Namun, seiring perkembangan teknologi, TVRI memperluas jaringan dengan membuka stasiun daerah di seluruh Indonesia. Kini, TVRI memiliki 32 stasiun kawasan dan satu stasiun pusat di Jakarta.
Perubahan kelembagaan
  • 1963: Berdasarkan Keppres No. 215/1963, TVRI ditetapkan sebagai Yayasan Televisi Republik Indonesia, dengan pendanaan dari subsidi pemerintah dan iuran wajib pemilik televisi.
  • 1975: Status ganda membuat TVRI kurang netral karena kepentingan politik.
  • 2000: Melalui PP No. 36/2000, TVRI berubah menjadi Perusahaan Jawatan, menegaskan asas netral, mandiri, dan berorientasi publik.
Perkembangan teknologi & program
  • Awalnya siaran menggunakan gelombang VHF analog, kemudian beralih ke sistem digital.
  • Ragam program: berita, hiburan, pendidikan, olahraga, serta budaya.
  • Era digital:
    • 2022: meluncurkan TVRI World, saluran berbahasa Inggris untuk pemirsa global.
    • Mengoperasikan layanan streaming TVRI Klik, yang menayangkan seluruh saluran TVRI dan stasiun daerah.
Sejarah TVRI Yogyakarta

Sejarah TVRI Yogyakarta

TVRI Stasiun D.I. Yogyakarta adalah stasiun daerah pertama TVRI, berdiri pada 1965.
  • Lokasi awal: Jalan Hayam Wuruk, Yogyakarta. Kepala stasiun pertama adalah Ir. Dewabrata.
  • Menara pemancar:
    • 1970: menara bambu di Jalan Magelang Km 4,5, di atas lahan ±4 hektar.
    • 2008: dipindahkan ke Bukit Patuk, Gunung Kidul untuk memperluas jangkauan siaran.
  • Siaran perdana: 17 Agustus 1965, menyiarkan pidato HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-20 oleh Sri Paduka Paku Alam VIII.
  • Format siaran: Awalnya hanya 2 jam, 3 kali seminggu, dengan siaran hitam putih.
  • Perkembangan:
    • 1973: mulai siaran rutin setiap hari, durasi 2,5–3 jam, ditambah relay dari TVRI Pusat.
    • Kini hadir dengan program lokal berbahasa Indonesia dan Jawa, serta slogan khas “Pancèn Istiméwa”.